Jumat, 13 Juli 2012

Bekerja Merupakan Sebuah Kehormatan dan Nilai dari Sebuah Ibadah





Seorang lelaki sedang dilanda lapar. Lantas ia pergi ke sebuah rumah makan di pinggir jalan. Tidak menyantap waktu terlampau lama, pesanan makanan lelaki itu sudah terhidang di atas meja. Saat lelaki itu mulai memakan makanannya, seorang anak laki-laki kecil datang menghampiri sambil membawa kue-kue.

“Pak, mau beli kue saya?”

“Tidak. Saya sedang makan,” si lelaki menjawab dengan cuek.

Rupanya,  anak kecil itu tidak lantas pergi. Ia kembali menawarkan kuenya begitu si lelaki menghabiskan makanannya. Namun, tawaran kedua membuahkan hasil yang sama dengan tawaran pertama.

“Tidak. Saya sudah kenyang.”

Setelah lelaki itu membayar makanan di kasir dan beranjak pergi, anak kecil itu rupanya belum menyerah juga. Sudah seharian ini dia menjajakan kue buatan ibunya. Maka kata “menyerah” sudah lama dia hapus dari kamus hidupnya.

“Pak, mau beli kue saya?”

Merasa risih dengan tawaran si anak untuk ke sekian kali, lelaki itu akhirnya merogoh sakunya. Kemudian ia mengeluarkan uang sebesar dua ribu rupiah.

“Ini uang saya berikan. Kuenya tidak akan saya ambil. Anggap saja ini sedekah dari saya.”

Anak kecil itu lantas mengambil uang. Namun tanpa diduga si lelaki, uang tersebut malah diberikan kepada pengemis yang sedang ada di situ.

“Kenapa uang itu kamu berikan kepada pengemis? Kenapa tidak kamu ambil?”

Lugu anak kecil itu tersenyum. Lalu menjawab, “Saya sudah berjanji kepada ibu di rumah, bahwa saya akan menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis. Dan saya akan bangga pulang ke rumah dan bertemu ibu dengan kue yang sudah terjual habis. Saya akan merekahkan senyum manakala menyerahkan uang hasil saya berjualan. Sungguh, ibu saya tidak suka kalau saya menjadi pengemis.”

Lelaki itu tertegun. Tidak ada keraguan yang tersisa, yang ia jumpai di bola mata anak kecil itu. Dia tidak menyangka, anak sekecil itu punya etos kerja yang tinggi. Dia tidak menduga, bahwa keberhasilan menjajakan kue di hadapan ibunya merupakan satu kehormatan.

Setelah agak lama memerhatikan anak kecil itu, si lelaki lalu memutuskan untuk memborong habis kue. Bukan karena kasihan, tetapi karena ia telah ditegur sebuah pendirian, bahwa sesungguhnya bekerja adalah sebuah kehormatan.

Dikisahkan, bahwa suatu hari Nabi Isa a.s berpapasan dengan seseorang. Lalu ia bertanya, "Apa kesibukanmu sehari-hari?" Orang itu menjawab, "Aku senantiasa sibuk beribadah." Mendengar demikian, Nabi Isa lekas melanjutkan pertanyaannya, "Lalu siapa yang menanggung kehidupanmu?" Ia berkata, "Saudaraku." Nabi Isa spontan menjawab, "Kalau demikian, saudaramu itu lebih tinggi nilai ibadahnya daripada kamu." (Al Ghazali)