Welcome to the jungle! Yeah, itulah deskripsi perjalanan yang akan saya bahas pada blog ini. Ide untuk mengisi liburan ditengah jadwal yang padat, membuat saya ingin refreshing tapi dengan aktifitas yang seru dan menantang *hehe.. Pada tanggal 5 november 2010 saya (rayestar bernando) bersama tiga teman saya yaitu Falga Mustofa Tauhid (aga), Rudi Sahala Silaban (laban), dan Jhon Ronaldo (onay). Pada saat itu kami bersiap berlibur menuju Gunung Cikurai - Garut. Kamipun berangkat pukul 5 sore dari Jatinangor, tepatnya pertigaan plang brimob sayang. Dengan menggunakan angkot Gede Bage – Rancaekek kamipun turun di Dangdeur Rancaekek *bayarnya Rp1500 saja dan ketika sampai di rancaekek kami bersiap untuk kemudian menaiki bus menuju narogong, garut. Pada saat itu Kami menaiki bis intan raya dan saya duduk dibangku barisan belakang, beruntungnya saya duduk bersebelahan dengan seorang gadis berusia 17 tahun *hehehe asik lhoo. Ketika itu saya belum berani mengajak gadis itu untuk ngobrol karena disebelahnya juga ada seorang pria yang saya duga adalah pacar dari gadis tersebut. Ketiga teman saya yang duduk di bangku panjang paling belakang menertawakan dan mengejek saya karena saya tidak mengobrol dengan gadis tersebut, selang 20 menit kemudian, ketika saya mengetahui pria yang berada disebelahnya bukan pacarnya, saya memberanikan diri untuk mengobrol dengan gadis tersebut. Namanya nuniks, usianya 17 tahun dan dibekerja sebagai buruh pabrik di PT. Ginset cileunyi. Saya terkejut ternyata dia masih sangat muda, dia juga mengaku tidak melanjutkan sekolah ke tingkat SMA karena orang tuanya yang menyuruhnya untuk bekerja dan memberikan alasan karena pergaulan zaman sekarang yang tidak baik baginya.
Banyak perbincangan yang saya obrolkan dengannya tetapi sayang, saya tidak sempat meminta nomor hpnya karena HP saya baterainya habis *hahaha jadi curcol deh. Saya tidak habis pikir ternyata zaman seperti ini masih banyak anak-anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena anjuran orang tuanya. Sosok nuniks adalah gadis yang menurut saya cantik, polos dan baik. Perjalanan menaiki bus tersebut menghabiskan waktu sekitar 1 jam perjalan menuju bundaran narogong garut, dan kami pun turun disana. Pada itu pukul 7 malam Setelah kami turun dari bus, kami melanjutkan dengan jalan kaki sekitar 5 menit untuk naik angkot menuju rumah teman saya falga. Disana kami rencananya istirahat untuk malam ini dan menunggu 3 orang lainnya yang juga ikut menuju cikurai yaitu asep saepul mi’raj, kang eky mustofa sulaeman dan kang deni.
Kami telah tiba ditempat dimana saya dan teman-teman lainnya bersiap untuk menaiki angkot menuju rumah falga, disana kami terkejut melihat 2 teman saya (eky dan teman’y eky) tiba-tiba menaiki angkot tersebut, mereka tidak duduk di dalam tetapi bergelantungan diluar. Mungkin pembaca bingung mengapa tadi saya terkejut??!
Begini ceritanya,, disini saya juga ingin menceritakan sosok yang menurut saya sangat unik untuk diceritakan.. sosok itu adalah kang eky mustofa sulaeman,, betapa tidak,, bahwa sanya dia berjalan kaki dari jatinangor sampai narogong, tempat dimana saya bertemu dia diangkot. Salutnya lagi waktu tempuh yang ia lakukan untuk berjalan ke tempat tersebut sekitar 15 jam (woooow bukan waktu yang sebentar untuk berjalan kaki). Dan pastinya mungkin teman-teman bertanya kenapa kang eky melakukan hal tersebut?? Jawabannya adalah dia bernazar (berjanji pada diri sendiri jikalau keinginannya tercapai),, jika dia lulus sidang sarjananya, dia akan berjalan kaki atau mapah dari jatinangor menuju rumahnya yang berada di narogong.. hebat bukan dan esok harinya di harus ikut mendaki cikurai lagi!! Begitu ceritanya.. akhirnya kamipun sampai dirumah falga,, tanpa basa-basi lagi saya langsung minta makan dan falgapun langsung mengeluarkan bekal makanan yang dibawanya dan kita ngeliweut untuk makan bersama-sama. Dan kamipun beristirahat untuk mengisi stamina untuk esok hari.
Selasa 6 november 2010, pukul 7 pagi kita sarapan setelah itu bersiap untuk menuju cikurai. Datanglah seorang temanku asep saepul mi’raj dan jam 9 pagi kita langsung bergegas untuk berangkat. lajur pendakian yang akan kita lewati adalah dari cilawu, untuk sampai kesana kami harus mencarter angkot seharga Rp5000/orang. Dan setelah sekitar 30 menit berjalan, akhirnya kami sampai di cilawu. Dari sana kami mulai berjalan mendaki melewati perumahan warga, hamparan perkebunan teh dayeuh manggung dengan jalan setapak yang kami lalui dan juga jalan terjal menanjak berupa bebatuan. Selama 2 jam lebih akhirnya kita sampai di tower atau pemancar yang cukup tinggi (TVRI) yang nantinya dapat dijadikan arah (pedoman) dalam perjalanan menuju puncak. Pada saat itu waktu menunjukan pukul 12 siang dan kami bergegas untuk mencari sumber air dan beristirahat sejenak untuk sholat dan makan. Setelah puas beristirahat, jam 1 siang kamipun melanjutkan perjalanan kami.
Seperti karakteristik dari gunung-gunung lain yang memiliki bentuk seperti ini, mata air mengalir akan sulit ditemukan atau bahkan tidak terdapat sama sekali dalam perjalanan menuju ke puncak gunung, dan mata air yang ada di gunung ini pun hanya ditemukan di dekat tower atau pemancar (Cilawu atau Dayeuh Manggung). Oleh karena itu kita harus mengambil air untuk persediaan selama di atas nanti. Untuk mencapai puncak gunung yang tingginya mencapai 2821 meter diatas permukaan laut ini, diperlukan waktu tempuh selama 7 sampai 10 jam untuk waktu normal dan pada waktu tertentu sebaiknya pendaki disarankan agar beristirahat untuk menjaga kondisi dan tenaga. Karena jalur pendakian yang masih termasuk jarang dijamah orang, maka kita akan disuguhkan sebuah pemandangan hutan asri dan alami, tetapi perlu diingat bahwa dalam perjalanan selama menuju ke puncak kita akan menemukan beberapa percabangan jalan, karena petunjuk menuju puncak gunung tidak terdapat dengan jelas seperti halnya Gunung Gede yang telah menggunakan tanda panah untuk mencapai ke puncak. Untung diantara team kami sudah ada yang pernah mendaki gunung cikurai sehingga dia menjadi pimpinan tim, yang berada paling depan dan membuka jalan.
Kami berjalan mengarungi belantara hutan yang masih sangat sempurna ini, karena beberapa bagian lereng ataupun lembah di hutan ini tidak pernah dijamah oleh manusia. Gunung ini terlihat masih sangat asri dan indah, kami terus berjalan dan setiap 30 menit kami berhenti sejenak untuk meregangkan otot pada tubuh kami, untuk mencapai puncak gunung cikurai ini kita harus melewati 3 punggung puncak untuk mencapai puncak yang sesungguhnya. Waktu itu sudah pukul 8 malam, kita belum juga sampai pada puncak gunung tersebut, karena beberapa diantara kita merasa kelelahan, akhirnya kita memutuskan untuk menghentikan perjalanan sejenak dan mendirikan sebuah tenda. Disana kami bergegas masak nasi dan mie, dan setelah itu kamipun makan dengan tambahan lauk yang dibawa oleh asep. Jam 10 kamipun tidur *padahal sih gak ada yang bisa tidur karena udara yang sangat dingin. 4orang berada dalam tenda, dan 3 orang diluar tenda dengan hanya menggunakan matras dan sleeping bed. Yah,, saya harus tidur diluar dikarenakan badan saya yang cukup besar, ditambah tempat yang saya tiduri sedikit ladai dan saya hampir jatuh ke semak-semak yang cukup terjal. Lucunya lagi, ada seekor tikus yang melewati muka saya *untung aja dah pake sleeping bed, jd gak masuk tuh ke dalam sleeping bed saya.
Waktu telah menunjukan pukul 1 pagi dan kamipun bersiap untuk bergegas mendaki lagi, pukul setengah dua kamipun melanjutkan perjalanan kami yang tertunda tadi. Memang perlengkapan pendakian kami kurang memadai, dari 7 orang pendaki, kami hanya memiliki 3 senter saja untuk menjadi sumber penerangan, meskipun kurang tapi hanya itu sumber penerangan yang kami punya *yah,, itu akan menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk kami jika lain waktu mendaki lagi. Disitu kami merasa perjalanan tinggal sebentar lagi, karena tumbuhan yang berada disana mulai terasa lembap dan penuh dengan lumut, juga jalan yang kami lewati bukan lagi tanah tapi bebatuan. Yups benar ternyata,, sekitar 25 menit kami berjalan akhirnya kami sampai dipuncak yang kami harapkan.. yeahhhh..
Setiap pendaki pasti akan merasa gembira setelah mencapai puncak, begitu juga dalam pendakian ke puncak Gunung Cikurai ini. Pendaki merasa puas setelah mencapai puncak. Khususnya puncak cikurai, pendaki akan disuguhkan pemandangan yang mungkin berbeda dengan pemandangan di puncak gunung lain, karena kalau kita berdiri di puncak gunung ini yang luasnya kurang lebih sebesar “lapangan sepak bola”, pandangan mata kita akan sangat jelas melihat sekeliling gunung, karena tidak ada pohon ataupun bangunan apapun yang menghalangi pandangan kita. Oleh karena itu sebaiknya pendaki mencapai puncak pada dini hari karena ketika matahari terbit, pemandangannya mungkin tidak akan pernah bisa dilupakan. Itu semua sangat berbanding lurus dari apa yang kita usahakan, dengan apa yang kita dapatkan. Alhamdulillah disana kami dapat menancapkan bendera merah putih. Di atas sana udara benar-benar sangat dingin sehingga saya merasa masuk angin dan meriang. Wow dini hari kita berada dipuncak, dan kamipun menunggu saat-saat yang kami harapkan, yaitu sun raise yang sangat indah di atas puncak cikurai. Ternyata sunraise yang kami tunggupun tak jua tampak, itu semua karena terhalang oleh awan yang tebal. Dan pukul 9 pagi kami bergegas untuk turun lagi. Disana kami berharap dapat melanjutkan petualangan yang lebih seru lagi..








