Jumat, 13 April 2012

Apa manfaat Menulis Bagiku?

Menulis merupakan salah satu hobi yang produktif. Menulis itu bukan sekedar merangkai kata-kata menjadi kalimat yang memiliki makna. Akan tetapi, menulis merupakan salah satu cara untuk mengeluarkan semua ide-ide yang ada dalam pikiran kita tanpa ada batasan yang menghalangi.

Apa manfaat menulis bagi saya? Tentu saja sangat banyak. Saya bukan orang yang pandai mengeluarkan ide yang ada dalam pikiran saya secara lisan. Untuk itu, saya membutuhkan alternatif lain untuk mengemukakan ide saya tersebut. Dan menulis adalah alternatif yang saya pilih. Seperti yang sudah saya sampaikan, dengan menulis saya bisa mengeluarkan ide-ide yang ada dalam pikiran saya. Bagi saya, menulis itu sama saja dengan menciptakan dunia saya sendiri, dunia yang saya inginkan, tanpa ada yang bisa membatasi.

Manfaat lain yang saya dapatkan dari menulis adalah kepuasan hati. Mungkin ini agak berlebihan, namun itulah yang saya rasakan setelah saya menulis. Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi saya untuk menulis saat saya merasa tertekan. Hati akan terasa lebih ringan saat saya sudah menulis.

Menulis juga merupakan salah satu cara untuk menyimpan kenangan yang berkesan. Terkadang sayapun menuliskan kenangan-kenangan saya bersama sahabat-sahabat saya. Saat rasa bosan datang, saya sering membaca kembali tulisan-tulisan saya tentang kenangan saya bersama sahabat-sahabat saya.

Untuk membuat tulisan yang baik, tentu saja diperlukan imajinasi serta pengetahuan yang luas. Saya ingin membuat tulisan yang baik, karena itulah saya jadi sering membaca untuk menambah pengetahuan saya.

Minggu, 08 April 2012

Setiap kemenangan butuh kesabaran

Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Ayah, ayah” kata sang anak…

“Ada apa?” tanya sang ayah…..

“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…

aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capel, sangat capek …

aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…

aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”
” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

kiriman dari seorang sahabat

Terima kasih atas artikelnya. Teruslah menulis sahabat..

Senin, 02 April 2012

Tidak Mudah dan Diluar Dugaan

Aku memang penuh rencana. Berusaha membuat sesuatu hal baru setiap waktu. Kala jemu mencengkram hatiku dengan erat, kulepas ia dengan tak peduli. Kadang aku suka mengerjakan sesuatu hal tanpa rencana, namun untuk hal ini sepertinya menyakitkan. Bayangkan saja, setiap hal yang kita lakukan haruslah ada manfaatnya tapi yang kini aku lakukan cenderung hampa. Tanpa sedikitpun makna tersirat untuk minimal membuat hal ini sedikit mulia.
Aku mulai bermain dengan waktu, bermain tarik ulur dengan waktu, bermain toleransi terlalu tinggi dengan waktu hingga tak kusadari waktu jua yang membuat aku hancur berkeping-keping. Terlalu berlebihan sepertinya jika aku berkata demikian, bagaimanapun waktu yang aku punya adalah milikku maka saat aku tersakiti olehnya, sebenarnya aku sendiri yang menyakiti hatiku. Pelik memang.
Jika bicara tentang waktu, maka aku harus kembali teringat akan masa lalu,, sebut saja saat itu adalah waktu yang paling bersahabat denganku. Kala aku merasa setiap detik yang terlewat adalah tetesan madu yang lezat hingga tak mau setetespun kulewatkan. Tapi biarlah ia berlalu, toh aku pernah merasakannya dan merasa nyaman menjalaninya. Walau mungkin saat ini tak sama seperti itu, tapi aku bersyukur karena aku bertambah dewasa. Insya Allah.